Ketika di Indonesia masih banyak
saja yang bertengkar baik di dunia maya, dunia nyata seputar mengapa Malaysia
Indonesia Singapore kok sepertinya saling ambil mengambil contek menyontek
budaya, bahasa, kreativitas, seni, makanan, disini di Dundee kita orang melayu
saling sayang dan saling saudara.
Rasanya benar-benar berbeda
bergaul dengan saudara serumpun dibandingkan dengan teman asia lainnya, atau
teman dari belahan Afrika, Amerika apalagi Eropa, bergaul dengan saudara
serumpun keguyubannya tidak bisa dikatakan. Kita benar-benar seperti saudara
jauh yang bertemu kembali, jadi kesulitan apa yang anda alami saudara serumpun
disini saling membantu. Katakanlah ada yang sakit, ada yang kesulitan keuangan,
ada yang pindah rumah, atau pulang kampung tidak ada istilah enak tidak enak,
tanpa diumumkan secara ajaib satu komunitas akan tahu dan tanpa diminta akan
menolong
KMD berasal dari istilah Komuniti
Melayu Dundee, terdiri dari sekumpulan orang-orang Melayu berparas, kulit,
rambut dan bahasa sama: Singapore, Brunei Darussalam, Malaysia dan Indonesia.
Sudah 1,5 tahun ini kami bergabung didalamnya, kami aktif berinteraksi via
whatsapp dan facebook juga ada aktivitas pengajian bulanan, gathering
accidentally dadakan saat siapa saja ada makanan lebih, ataupun sekedar minum teh
sore. (Lebih detail tentang KMD nanti akan dijelaskan di postingan lain)
Jadi dikarenakan sudah masuk
Spring dimana spring ini bunga-bunga mulai bermekaran, yang saya kira di
film-film gambaran spring betapa bunga-bunga berwarna warni mawar, tulip,
cherry blossom/sakura yang sangat cantik itu adalah dramatisasi, ternyata setelah
hidup merasakan sendiri tinggal di Eropa itu bukanlah dramatisasi, itu
benar-benar terjadi
Itulah sebabnya Gathering kali
ini diadakan, untuk menikmati cuaca yang menghangat (walau hangatnya hanya naik
5 derajat, sekitar 8 derajat-an) Gathering kali ini mengusung tema Potluck Barbeque
yang sangat popular di Eropa yakni membawa makanan sendiri-sendiri dan berbagi
Pagi hari saya yang mendapat
giliran memasak ayam, mie, dan dessert bangun pukul setengah 6, setelah shalat
subuh sirkuslah saya di dapur saya diminta membuat mie goreng untuk 20 porsi
kemudian, membuat dessert yakni martabak manis, dan membuat ayam bumbu (yang
nantinya akan dibakar ditungku disana)
Saya menyelesaikan dalam waktu 3 jam,
waktu yang kurang mengingat proses membuat martabak manis harusnya lebih lama
namun saya skip sedikit fermentasi dan saya coba icip ternyata rasanya juga
tidak kalah dari buatan saya biasanya dengan proses aslinya, saya sudah sadar
bahwa saya akan terlambat (karena undangan gatheringnya Pukul 10.00) Dan
tiba-tiba saja waktu menunjukkan pukul 10 dhuer. Saya pasrah saja dan merasa
makanan saya kan bukan makanan inti jadinya ya boleh lah terlambat sedikit
(Jangan ditiru ini hanya berlaku untuk janjian dengan sesame orang melayu,
jangan coba-coba terlambat pada orang Bule hehhe bisa dimaki)
Saya langsung secepat kilat lebih
cepat dari wonder women berganti baju. Ganti baju disini berarti memakai: Long
John (baju termal anti dingin), baju luar, jeans, jaket, hijab, kaus kaki
tebal, sepatu kalikan tiga (karena saya juga harus mengganti dua buntut saya)
Kami menaiki bus nomor 26,
seperti biasa kami membayar diawal saat naik, kami membayar 1,8 pounds per
penumpang (sekitar 36.000 rupiah) dikalikan dua dengan suami (anak-anak dibawah
5 tahun tidak membayar) biasanya bis bisa membayar 5pounds atau sekitar 100ribu
untuk naik turun sepuasnya (sampai 5 orang penumpang) namun khusus untuk bus
nomor 26 tidak menyediakan tiket paket tersebut.
Sepanjang perjalanan benar saja,
bunga-bunga liar bertumbuh sangat cantik, warna kuning, biru, ungu, bertebaran
di padang rumput, saya yakin sekali itu bunga liar karena letak dan susunannya
sangat random, namun orang Indonesia yang melihatnya pasti tidak akan percaya
karena bentuk bunga-bunganya seperti bunga mahal. Betapa indah musim semi,
sepanjang jalan hanya bisa bersyukur dan menyebut subhanAllah
Sesampai disana lha koq ternyata
yang datang masih sedikit, yaah dari pengalaman-pengalaman sebelumnya memang
sih budaya orang melayu sama saja seperti budaya orang Indonesia, sama-sama jam
karet.
Camperdown Park Dundee ini sangat
indah, berupa taman besar dengan banyak pohon tinggi dan juga dengan danau
buatan dan 4 lahan agak besar diisi mainan anak-anak perosotan, ayunan, jungkat
jungkit, pasir, mainan gymnastic, wahh benar-benar perlu ditiru oleh pemerintah
kota di Indonesia

“Seronoknyee” Ini ungkapan kawan
Singapore bernama Syarifah yang berarti seru sekali saat dia melihat susunan
makanan yang amat melimpah, ada ayam bakar, kambing bakar, ada Tao Tsu (mirip
siomay Indonesia dengan bumbu asam manis, ada nasi lemak Malaysia (mirip nasi
uduk), kemudian ada martabak manis buatan saya (yang juga ada di Malaysia sama
persis namun bernama Apam balik), Blue berry cake, cheese cake, Fish finger
home made, Salad Malaysia (tumisan sayuran), sambal Malaysia yang amat lezat
(rasanya agak manis mirip sambal yang dibuat orang Banjarmasin.
Sepanjang acara saya, suami dan anak-anak saling bermain dengan anak-anak lain, berbincang-bincang hangat dengan saudara-saudara KMD, bertukar resep masakan, dan merencanakan acara-acara selanjutnya di gathering KMD lainnya.
Malaysia, Singapore, Brunei, sudah seperti saudara sendiri. Tidak ada bahas perbedaan, kita saling membahas persamaan, What a day..





Wah serunya. Paling suka kalo ada tulisan tentang pengalaman merantau di negeri orang terus ketemu saudara serumpun/setanah air. Mungkin manusia memmang baru bisa rukun dan saling berdamai kalau dia berada di lingkungan yg asing dan kemudian menemukan orang lain yg mempunyai persamaan dg dia. Mungkin manusia hrs dikumpulkan dg alien biar tdk lg saling hujat ttg ras, etnis, warna kulit, agama, sekte, nasionalitas, dan perbedaan2 lainnya
BalasHapusWkwkwkwkkwkw serem saaa.. alien jare.. sesuai ya saa dengan teori psikologi sosial dimana kelompok atau tekanan luar yang intens akan meningkatkan dan memperkuat ikatan dalam grup
BalasHapusSaya paling ngiri sama foto-fotonya.
BalasHapusSeru kayaknya bertemu banyak kenalan dari berbagai negara
Seru Za.. Setuju bgt sama komentarnya Arsa
BalasHapus