Rabu, 27 Juli 2016

The Cupu Side Of Me

Cupu dalam kitab besar kamus slang berarti Culun punya dan dalam tulisan ini saya mau menuliskan perjalanan saya menjadi seseorang yang cupu (yess at least dalam hal penampilan hehe) Its super big deal ketika itu berhadapan dengan salah satu prinsip saya saya berbunyi most people will judge you from your cover so always prepared!! Dalam salah satu text book personality themes yang saya baca seseorang akan menilai kita dari 2menit pertama berjumpa dari pemilihan warna pakaian, aroma tubuh, gesture dan bagaimana kita membawa diri.

Itulah sebabnya kenapa "dulu banget" saya sampai pernah ada masanya mencatat semua pakaian yang saya pakai sehingga saya bisa pastikan tidak ada baju yang terulang dalam rentang satu bulan, sounds pathologic ya? Tapi yaa namanya saja remaja, selalu ada saja momen aneh dan membuat kita dimasa depan geleng geleng kepala atas ulah kita.

Banyak sekali paduan dan prinsip idealisme absurd masa muda dalam berpakaian. Perhatikan selalu warna baju yang dipakai, potonglah label brand yang "muncul". Baju yang panjang harus disertai legging agar tidak terkesan berlomba, kemudian baju rok hanya untuk atasan pendek. Kerudung bermotif hanya untuk pakaian yang polos. Jangan pernah memakai lebih dari 2 warna dalam berpakaian. Pakailah motif seminim mungkin agar selalu terlihat muda, karena pakaian bermotif akan membuatmu terlihat tua. Pakailah sepatu yang serasi dengan tas yang dipakai. Itu hanyalah sekelumit prinsip berpakaian yang saya anut..

Dan voilaaa..Dari serangkaian proses alhamdulillah saya mendapatkan insight.. Insight kalau dalam dunia Psikologi teorinya bapak Kohler berarti momen AHAAA...Aha ini diawali dari proses belajaryang diawali dengan proses coba-coba dan salah, setelah menemukan suatu cara dalam pemecahan masalah hingga akhirnya dicapai suatu pemahaman
 
Proses mendapat insight ini dimulai dari seorang teman yang terkenal sekali sosialita berpakaian selalu update, cantik luar biasa, tetiba beliau mengenakan baju amat banyak kainnya alias gamis, disertai kerudung kedodoran alias khimar.

Saya jadi agak sedih karena biasanya saya dan teman saya itu sering sekali berbelanja online shop beli dua harga lebih murah tidak bisa lagi karena pilihan genre baru dalam hal berbusananya yang mengharuskannya memilih pakaian sangat sederhana sekali, rok panjang atau pakaian terusan/gamis, atau kerudung/jilbab lebar sekali. Aahh tidak seru ungkap saya saat itu

Ternyata dibalik keseruan saya berburu fashion dan pernak pernik outfit saya baru tahu kalau ternyata teman saya itu ibundanya terkena cancer dan suaminya menderita penyakit lumayan mengancam. Terdiamlah saya, kawan macam apa saya. Dan saya akhirnya mengontak kawan saya itu. Singkat cerita kawan saya itu merasa ditegur oleh Allah.

Kawan saya itu kemudian menceritakan kisah tentang kuli bangunan yang sedang beristirahat makan siang. Kuli bangunan asyik makan sementara mandor dari lantai paling atas membutuhkannya dan memanggil dari atas dengan suara keras menggelegar namun si kuli bangunan tidak kunjung menoleh. Hingga akhirnya pak mandor gregetan dan melemparkan batu kecil ke arah kuli bangunan tadi, berhasillah si kuli bangunan menoleh ke arah Pak Mandor.

Kisah dari kawan saya itu ternyata adalah analoginya terhadap hidupnya saat ini, dirinya yang dahulu gemerlap harta dan dikelilingi kawan kawan kini diuji dengan "batu kecil" "dari atas" karena selama ini dirinya asyik. Dia kemudian bertutur Betapa hidup itu sangat singkat, betapa dunia ini hanya transit dan kenapa kita tidak berusaha mengumpulkan bekal dan berusaha mengambil hati dari pemilik "final destination" kita.

Kenapa kita mati matian memenuhi surat kelakuan baik, surat sehat dari rumah sakit ekslusif, dan serangkaian syarat lainnya untuk dapat diloloskan mendapatkan visa untuk memasuki luar negri yang menjadi impian banyak orang? Kenapa persyaratan visa akhirat tidak mulai dikumpulkan?

Teman saya yang kata katanya biasanya saya tertawakan dan berujung dagel sana sini itu membuat saya terdiam dan berpikir selama 1,5 tahun lamanya. Siapkah saya? Apakah saya bisa mengumpulkan persyaratan visa akhirat? Mendekati Tuhan dan membuat Tuhan senang dengan melakukan apa yang diperintahNya? One of them cara berpakaian??

Apakah saya siap meninggalkan keseruan dunia fashion yang saya suka, keseruan memakai asesoris, memadu padankan warna dan motif.. Aaaahh.. Baju panjang kan mahal, gamis kan kelas atas butuh kain banyak dan modal, dan serangkaian alasan. Bla bla bla.. Entahlah saya biarkan hidup saya mengalir, sampaaii entahlah ada keinginan saya menyederhanakan pakaian saya.

Saya seperti mendapatkan jawaban doa saya, perlahan tapi pasti saya mulai berpakaian cupu, memakai rok rok sederhana, baju panjang, kadang baju terusan alias gamis, kerudung agak panjang. Aah bisakah saya? Tidak bermaksud mengumbar perubahan saya, tapi saya hanya ingin sebanyak banyak teman mengetahui betapa perjalanan mencari insight itu panjang. Tidak perlu mendapatkan lemparan batu terlebih dahulu untuk menoleh.

So here I am.. In the cupu side of me, dalam kitab slang Cupu berarti juga pemula atau baru belajar, masih awal awal. Hehehe saya nemu tulisan pas sekali "Berhijab bukan tanda taat, tapi tanda awal belajar taat" Biarlah saya jadi cupu, pemula dalam belajar, jadi jangan heran yaah kalau bertemu dijalan saya bukan lagi Za yang bersoftlens, dengan legging lucu dan pashmina warna warni berturban. I'm the new me. And im proud!!

2 komentar:

  1. ke pasar kapasan aja mba, ibuku pernah beli gamis 75rb, tp kudu beli 2, hehehe... masi byk baju panjang yg ciamik tapi murah asal mo nyari. Welcome to the cupu cupu, wkkwkkwk... ngga cupu mbaaaa... tambah keceeeee....insya allah^^

    BalasHapus

 

Make Path By Writing Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates