Sabtu, 21 Januari 2017

MAGER MAGER MAGER


K : bro, temenin gua ke kantin yuk
L : sory bro, gue lagi mager 
;);)


A : Dek,mama beliin kecap dong di warung..??
B : Gak ah.,lagi Mager nih ma..!?


A : Dek weekend ngga kemana mana kita makan diluar yuk..??
B : Aduh pap lag imager nih, pesen gojek aja ah


A : Mas permisi dong bibi mau beresin kamarnya
B : Walah bi mager nih ngga usah diberesin lah kamarku biar begini

Miris tidak mendengarnya? Mungkin diantara anda ada juga yang seperti saya tiga bulan lalu, mager mager mager apa sih? Yes memang saya ketinggalan karena bahasa ini seberanya sudah viral sekali sejak tahun lalu. Belum tau sejarahnya siapa pencetusnya dan kapan tepat mulai viralnya, Mager ini sebenarnya kata slang baru yang merupakan akronim dari Malas Gerak, mager ini akhir nya koq malah jadi tagline anak muda jaman sekarang yang suka melabel label diri mereka sendiri. Didukung dengan banyaknya lagu lagu bertema MALES (katakanlah Bruno Mars- lazy song, Suede- Lazy, Robbie William – Lazy day) semakin membuat anak sekarang menjadi jadi malasnya :’)

Sebenarnya mungkin faktor lingkungan juga sih seseorang bisa mencetuskan terminology Mager dan akhirnya jadi pemalas betulan hehe, kemajuan teknologi yang membuat kita tidak harus naik tangga bercapai capai karena adanya lift, escalator. Kita bisa memesan beras, gula, kecap bahkan dengan satu sentuan di telepon tanpa harus ke pasar, atau bahkan bersilaturahim yang dulu ditempuh ganti bus dua tiga kali kini bisa dipersingkat dengan adanya Skype, Line, WA call. Selain itu tuntutan pekerjaan yang memeras jiwa dan raga individu sehingga membuat mereka letih dan jenuh luar biasa sehingga di akhir pekan mereka tidak ingin melakukan apa apa. Tapi yaah bagaimanapun letih, capai tidak sama dengan malas yah. Saya masih merasa istilah Mager ini tidak seharusnya ada hehe

Saya jadi ingat curhatan teman tentang bagaimana dia mengajar di salah satu sekolah internasional yang murid muridnya saat olah raga sedikit sedikit bilang cape, lari keliling lapangan tidak mau, bahkan ada yang pingsan (yang dicurigai pura pura)  mereka secara serempak mengeluh tidak sanggup lagi. 

Maafkan.. Saya sungguh tidak menyukai kegiatan label labelling ini, ini mungkin terjadi pada label lain yang dicapkan individu pada dirinya sendiri. Seperti contoh semacam ibu ibu yang melabel dirinya “saya ngidam” dan akhirnya meminta dan manja sedemikian rupa bahkan sampai irasional ingin makan lobster berwarna ini, berukuran itu. Atau semacam label pada anak usia 3 tahun yang dilabel terrible three yang membuat orang tua akhirnya mengecap anak usia 3 tahunnya berulah sepanjang waktu (dan kadang lupa ulahnya itu adalah bentuk explore saling sambung sinaps otak).

Atau pada kasus orang dewasa kini juga masih banyak saya temui masih mengecap dirinya aku orang Sanguin, orang melankolis, orang marketing hehe. Pernah tidak mendengar istilah “Wajar dong kalau bicaraku lebih banyak dari kamu” atau “Aku kan orang Plegmatis tidak mau ribut (berujung tidak mau menyelesaikan masalah)” Sungguh, yang namanya labelling diri atau orang lain itu jatuhnya hanya mengkotak kotakkan diri dan membuat kita sulit berkembang


Ah, siapapun yang memulai istilah Mager semoga diampuni dosanya karena remaja atau pemuda yang harusnya bisa lebih banyak baca, berkreasi, menulis, ibadah atau silaturahim demotivasi dan mendapatkan excuse untuk beneran Males Gerak dan kurang produktif hehehehe.. peace..

source gambar: teenlife.com

2 komentar:

  1. Magerrrr... Males gerakin jari bwt nulis blog kalau ngga dipaksa jamaah, wkwkkwkw... Gara gara mager kita malah nulis ya mba=) ah, kadang hidup kyk ironi. Tapi iya sih, istilah mager ini tidak sebaiknya dilestarikan. Smangat nulis terus yuk mbaaaa

    BalasHapus
  2. Haha..kemudahan teknologi membuat kita mager. Apa-apa tinggal beli online aja

    BalasHapus

 

Make Path By Writing Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates