K : bro, temenin
gua ke kantin yuk
L : sory bro, gue lagi mager
;);)
L : sory bro, gue lagi mager
;);)
A : Dek,mama
beliin kecap dong di warung..??
B : Gak ah.,lagi Mager nih ma..!?
B : Gak ah.,lagi Mager nih ma..!?
A : Dek weekend
ngga kemana mana kita makan diluar yuk..??
B : Aduh pap lag imager nih, pesen gojek aja ah
B : Aduh pap lag imager nih, pesen gojek aja ah
A : Mas permisi
dong bibi mau beresin kamarnya
B : Walah bi mager nih ngga usah diberesin lah kamarku biar begini
B : Walah bi mager nih ngga usah diberesin lah kamarku biar begini
Miris tidak mendengarnya? Mungkin diantara anda ada
juga yang seperti saya tiga bulan lalu, mager mager mager apa sih? Yes memang
saya ketinggalan karena bahasa ini seberanya sudah viral sekali sejak tahun
lalu. Belum tau sejarahnya siapa pencetusnya dan kapan tepat mulai viralnya,
Mager ini sebenarnya kata slang baru yang merupakan akronim dari Malas Gerak,
mager ini akhir nya koq malah jadi tagline anak muda jaman sekarang yang suka
melabel label diri mereka sendiri. Didukung dengan banyaknya lagu lagu bertema
MALES (katakanlah Bruno Mars- lazy song, Suede- Lazy, Robbie William – Lazy day)
semakin membuat anak sekarang menjadi jadi malasnya :’)
Sebenarnya mungkin faktor lingkungan juga sih
seseorang bisa mencetuskan terminology Mager dan akhirnya jadi pemalas betulan
hehe, kemajuan teknologi yang membuat kita tidak harus naik tangga bercapai
capai karena adanya lift, escalator. Kita bisa memesan beras, gula, kecap
bahkan dengan satu sentuan di telepon tanpa harus ke pasar, atau bahkan
bersilaturahim yang dulu ditempuh ganti bus dua tiga kali kini bisa
dipersingkat dengan adanya Skype, Line, WA call. Selain itu tuntutan pekerjaan
yang memeras jiwa dan raga individu sehingga membuat mereka letih dan jenuh
luar biasa sehingga di akhir pekan mereka tidak ingin melakukan apa apa. Tapi
yaah bagaimanapun letih, capai tidak sama dengan malas yah. Saya masih merasa
istilah Mager ini tidak seharusnya ada hehe
Saya jadi ingat curhatan teman tentang bagaimana
dia mengajar di salah satu sekolah internasional yang murid muridnya saat olah
raga sedikit sedikit bilang cape, lari keliling lapangan tidak mau, bahkan ada
yang pingsan (yang dicurigai pura pura)
mereka secara serempak mengeluh tidak sanggup lagi.
Maafkan.. Saya sungguh tidak menyukai kegiatan label labelling ini, ini mungkin terjadi pada label lain yang dicapkan individu pada dirinya sendiri. Seperti contoh semacam ibu ibu yang melabel dirinya “saya ngidam” dan akhirnya meminta dan manja sedemikian rupa bahkan sampai irasional ingin makan lobster berwarna ini, berukuran itu. Atau semacam label pada anak usia 3 tahun yang dilabel terrible three yang membuat orang tua akhirnya mengecap anak usia 3 tahunnya berulah sepanjang waktu (dan kadang lupa ulahnya itu adalah bentuk explore saling sambung sinaps otak).
Maafkan.. Saya sungguh tidak menyukai kegiatan label labelling ini, ini mungkin terjadi pada label lain yang dicapkan individu pada dirinya sendiri. Seperti contoh semacam ibu ibu yang melabel dirinya “saya ngidam” dan akhirnya meminta dan manja sedemikian rupa bahkan sampai irasional ingin makan lobster berwarna ini, berukuran itu. Atau semacam label pada anak usia 3 tahun yang dilabel terrible three yang membuat orang tua akhirnya mengecap anak usia 3 tahunnya berulah sepanjang waktu (dan kadang lupa ulahnya itu adalah bentuk explore saling sambung sinaps otak).
Atau pada kasus orang dewasa kini juga masih banyak
saya temui masih mengecap dirinya aku orang Sanguin, orang melankolis, orang
marketing hehe. Pernah tidak mendengar istilah “Wajar dong kalau bicaraku lebih
banyak dari kamu” atau “Aku kan orang Plegmatis tidak mau ribut (berujung tidak
mau menyelesaikan masalah)” Sungguh, yang namanya labelling diri atau orang
lain itu jatuhnya hanya mengkotak kotakkan diri dan membuat kita sulit
berkembang
Ah, siapapun yang memulai istilah Mager semoga
diampuni dosanya karena remaja atau pemuda yang harusnya bisa lebih banyak
baca, berkreasi, menulis, ibadah atau silaturahim demotivasi dan mendapatkan excuse
untuk beneran Males Gerak dan kurang produktif hehehehe.. peace..
source gambar: teenlife.com

Magerrrr... Males gerakin jari bwt nulis blog kalau ngga dipaksa jamaah, wkwkkwkw... Gara gara mager kita malah nulis ya mba=) ah, kadang hidup kyk ironi. Tapi iya sih, istilah mager ini tidak sebaiknya dilestarikan. Smangat nulis terus yuk mbaaaa
BalasHapusHaha..kemudahan teknologi membuat kita mager. Apa-apa tinggal beli online aja
BalasHapus