Kamis, 28 April 2016

Heart Broken Vs Tooth Broken

Pepatah populer sampai bosan mendengarnya: Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Benarkah? Bagaimana faktanya? Sama sakitnya, dan sama merananya.

Saya sedang tidak sakit hati sih, cuma merasa kecolongan saja. Pasalnya saya itu merasa super higienis dengan gigi saya, selalu concern dengan gigi, masa kecil beberapa kali dikunjungi dokter gigi dan saya mendapatkan hadiah karena gigi saya paling bagus dan rapih. Selalu concern tentang tata cara menggosok gigi yang baik dan benar (which is dari atas ke bawah untuk gigi bagian atas dan dari bawah ke atas untuk gigi bagian bawah), pun saya concern memakai mouth wash atau dental floss (benang pembersih gigi sebagai pengganti tusuk gigi, yang sebenernya dianjurkan tapi tidak dipakai di Indonesia)

Daannn, ternyata mulai dua bulan lalu gigi saya senut-senut ngilu. Tiba-tiba saja ada gigi patah! Bukan tanggal tercabut tapi patah separuh gigi. Alamak kaget saya, saya yang astaghfirullah agak takabur membanggakan bahwa saya tidak pernah sakit gigi (tidak boleh sebenernya, maaf ya Allah :')) sering menyindir adik saya yang careless/tidak peduli pada gigi ternyata saya terkena sakit gigi.

Wah disinilah petualangan saya konsul sana sini ke temen-temen Malaysia yang rata-rata temen saya di Dundee adalah Malaysia, kemudian browsing segala macam tentang gigi, dan akhirnya periksa ke dokter gigi universitas.

Jadi ceritanya gigi saya ini yang belakang bentuknya tidak benar, jadi bentuknya terlalu besar sehingga tidak terjangkau oleh sikat gigi, sehingga tumpukan-tumpukan sisa-sisa pembuangan mengumpul disana dan membuat gigi tersebut keropos dan patah :')

Saya biarkan satu bulan tidak terasa apa-apa tidak ngilu tidak sakit tapi koq lama-lama sisa patahan itu terisi makanan-makanan dan ahh, ke higienisan saya terganggu (LOL)

Saya putuskan, cabut sajaa.. Dan pengalaman saya ke dokter gigi masyaAllah benar kata orang-orang bahwa sedari kecil harus dibiasakan ke dokter gigi agar besarnya tidak kaget dan tidak takut. Saya yang dari kecil selalu jumawa dengan kesehatan gigi saya tidak pernah ke dokter gigi tiba-tiba harus ke dokter gigi bahkan baru mendengar suara kursi periksanya naik turun saja saya sudah deg-degan.

Saya dicek dan diberi pilihan apakah saya mau merawat saja ataukah dicabut. Saya yang saat itu tidak mau ribet mengucapkan dicabut saja. Saya tiba-tiba teringat sebuah artikel jika gigi dicabut kerugiannya ada dua
1. Bisa mengganggu gigi kiri dan kanannya jika ada space kosong biasanya gigi kanan dan kirinya akan bergeser berusaha condong ke space kosong tersebut
2. Bisa mengganggu gigi bagian atas atau bawahnya dimana dimungkinkan gigi bagian atas atau bawah itu bisa tumbuh memanjang mengisi space yang kosong tersebut
3. Jika tidak benar proses penyabutannya bisa bengkak atau infeksi berhari-hari seperti kisah pengalaman teman karena salah pencabutan dokter dia harus berobat ke Singapore
Dari tiga alasan tersebut banyak pengalaman dan artikel yang saya baca sebaiknya gigi sebisa mungkin dipertahankan

Saya diinfokan sama dokternya bahwa jika dirawat sendiri anda harus super bersih dan amatlah sulit jika dilakukan, akhirnya saya memutuskan untuk  ronsen saja dulu sebisa mungkin ingin saya rawat hehehhe.. Wish me luck :*

2 komentar:

  1. Kata ibuku yang juga dokter gigi mba Za, sebisa mungkin gigi asli tu dipertahankan dulu, dirawat saja walau harus bolak balik ke dentist. Kekuatan gigi palsu itu hanya seperlima gigi asli, jadi yg alamai itu memang awesome... Hehehe.. Smangat mba Za!! At some points, broket heart still feels better than toothache. Balikin mood bisa sambil makan enak, jalan2, ngapa2in lah. Sakit gigi? Ga bisa makan, ga bisa tidur, bahkan ga bisa curcol krn ngomong aja sulit.. Hehehe.. Cemunguuuut...

    BalasHapus
  2. Saya mah nggak mau dua-duanya 😂

    BalasHapus

 

Make Path By Writing Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates